Jumat, 04 Juni 2010
Kamis, 03 Juni 2010
Korek Harian Motor 4tak
Populasi bebek 4-nada kian bengkak. Yang nyemplak tidak mulu ibu-ibu ke pasar, nona-nona ke sekolah dan bapak-om ke kantor. Atau ojeker yang maunya irit. Tapi, bebek ini jadi kebanggan anak muda. Lebih ekstrem lagi, anak muda aliran olip alias ogah disalip.
Kalangan penyuka 4-tak ini, tentu belajar dari balapan. Entah itu MotoGP atau pasar senggol. Oooo... nyatanya 4-tak juga bisa kencang, ya. Berarti bisa kena sentuhan kohar alias korek harian. Iya, motor yang disuntik kemampuannya dari kondisi standar pabrik. Di zaman 2-tak, disebut korek jalanan.
Nah, era 4-tak sebut saja si kohar tadi. “Korek harian sama saja dengan korek jalanan. Intinya, lebih enak dari standar pabrik,” papar Zainudin mesra dipanggil bang Zai yang dulunya tukang korek jalanan 2-tak. Sekarang doski fokus korek harian 4-tak, tentu ikut berlaga di pasar senggol.
Aroma kohar wajib dibatasi. Otak-atik komponen mesin ditujukan sebagai kendaraan penunjang rutinitas. Fungsi, ketahanan, serta kenyamanan tetap kental pada kohar. “Lebih enak sekitar 20 persen tenaganya dari pabrik,” jelas Andika Bintang Budaya alias Gandhoz, mekanik yang juga instruktur HMTC.
So, bisa dipahami kan? Kohar bukan korekan balap. Ini pada 4-tak saat ini. Dulu, era 90-an, korek harian di 2-tak identik dengan balapan benaran 2-tak. Terutama kelas standar pemula 110 cc 2-tak. Di kelas ini, dilarang mengganti komponen dengan kompetisi. Murni bawaan pabrik yang dikorek di sana-sini.
Sementara, balap 4-tak di pemula dan senior, motornya setara. Yang membedakan kategori pembalapnya. Makanya, “Spek 4-tak untuk balap tak bisa mentah-mentah diterapkan di korek harian,” jelas tambah Gandhoz.
Kohar telah lama dikenal. Ya, sejak motor dijual. Biasa, itu hobi otak-atik menjalar ke jalanan. Dulu, lebih akrab disebut korek jalanan. “Apalagi saat kebut-kebutan di jalan ramai. Korek jalanan banyak dilakukan bengkel umum. Tapi masih murni akal-akalan mekanik,” kata Chairul alias Bang Yun, mekanik Yun’s Motor di Joglo, Jakarta Barat.
Perkembangan teknologi, kohar tidak sekadar mengandalkan mekanik. Onderdil pendukungnya, marak diperjualbelikan. Contoh, ratusan jenis knalpot racing, onderdil mesin, pengapian, bahkan peranti ciet. Kohar pun dapat angin. Bagi oknum anak muda, eh, malah berlanjut ke bali. Yang ini mah keliru.
Makanya, sesuai definisinya, kohar harus tetap mengandung tiga hal. Yaitu, fungsi, kenyamanan dan keamanan. Tetap punya perlengkapan lalulintas, rem pakem, dan layak bagi umum.
Kan korek harian tidak mengubah fungsi utama. Dia tetap sebagai kendaran sehari-hari mengantar sampeyan sampai tujuan. Berarti, setingan tidak terlalu boros dan tahan alias tidak rentan jebol. Makin ekstrem ubahan, kian rawan daya tahannya. “Memaksakan kemampuan motor jelas punya risiko. Kecuali sekalian ikut balap,” wanti Bang Zai lagi.
Unsur keamanan, ubahan korek harian musti mengikutkan standar. Misal, ubahan pada ban dan sistem pengereman bisa mendukung kecepatan akibat dikorek. “Ini wajib, termasuk untuk 4-tak,” tambah BangYun
Kalangan penyuka 4-tak ini, tentu belajar dari balapan. Entah itu MotoGP atau pasar senggol. Oooo... nyatanya 4-tak juga bisa kencang, ya. Berarti bisa kena sentuhan kohar alias korek harian. Iya, motor yang disuntik kemampuannya dari kondisi standar pabrik. Di zaman 2-tak, disebut korek jalanan.
Nah, era 4-tak sebut saja si kohar tadi. “Korek harian sama saja dengan korek jalanan. Intinya, lebih enak dari standar pabrik,” papar Zainudin mesra dipanggil bang Zai yang dulunya tukang korek jalanan 2-tak. Sekarang doski fokus korek harian 4-tak, tentu ikut berlaga di pasar senggol.
Aroma kohar wajib dibatasi. Otak-atik komponen mesin ditujukan sebagai kendaraan penunjang rutinitas. Fungsi, ketahanan, serta kenyamanan tetap kental pada kohar. “Lebih enak sekitar 20 persen tenaganya dari pabrik,” jelas Andika Bintang Budaya alias Gandhoz, mekanik yang juga instruktur HMTC.
Sementara, balap 4-tak di pemula dan senior, motornya setara. Yang membedakan kategori pembalapnya. Makanya, “Spek 4-tak untuk balap tak bisa mentah-mentah diterapkan di korek harian,” jelas tambah Gandhoz.
Kohar telah lama dikenal. Ya, sejak motor dijual. Biasa, itu hobi otak-atik menjalar ke jalanan. Dulu, lebih akrab disebut korek jalanan. “Apalagi saat kebut-kebutan di jalan ramai. Korek jalanan banyak dilakukan bengkel umum. Tapi masih murni akal-akalan mekanik,” kata Chairul alias Bang Yun, mekanik Yun’s Motor di Joglo, Jakarta Barat.
Perkembangan teknologi, kohar tidak sekadar mengandalkan mekanik. Onderdil pendukungnya, marak diperjualbelikan. Contoh, ratusan jenis knalpot racing, onderdil mesin, pengapian, bahkan peranti ciet. Kohar pun dapat angin. Bagi oknum anak muda, eh, malah berlanjut ke bali. Yang ini mah keliru.
Makanya, sesuai definisinya, kohar harus tetap mengandung tiga hal. Yaitu, fungsi, kenyamanan dan keamanan. Tetap punya perlengkapan lalulintas, rem pakem, dan layak bagi umum.
Kan korek harian tidak mengubah fungsi utama. Dia tetap sebagai kendaran sehari-hari mengantar sampeyan sampai tujuan. Berarti, setingan tidak terlalu boros dan tahan alias tidak rentan jebol. Makin ekstrem ubahan, kian rawan daya tahannya. “Memaksakan kemampuan motor jelas punya risiko. Kecuali sekalian ikut balap,” wanti Bang Zai lagi.
Unsur keamanan, ubahan korek harian musti mengikutkan standar. Misal, ubahan pada ban dan sistem pengereman bisa mendukung kecepatan akibat dikorek. “Ini wajib, termasuk untuk 4-tak,” tambah BangYun
Velg TDR
Velg TDR adalah velg buatan Thailand. Dari nama TDR(Thailand Development Racing), dapat di pahami bahwa TDR adalah salah satu Perlatan Motor yang dibuat untuk adu gengsi. Dan TDR merupakan merk ternama. Terutama di bagian Velg. Harganya pun cukup mahal,, tapi seimbang dengan harga dan mutu kualitasnya.
Velg TDR ini cukup bermodel dan cukup kuat walaupun bahannya terbuat dari Alumunium.
Velg TDR ini cukup bermodel dan cukup kuat walaupun bahannya terbuat dari Alumunium.
Minggu, 27 September 2009
Knalpot Kawasaki 250 R
Pasang Knalpot Racing
Beberapa pemilik Kawasaki Ninja 250R yang ganti knalpot racing mengeluhkan kesulitan saat seting. Kalau nggak nembak-nembak, tenaga nggak ngaruh banyak. Meski sudah seting jeting, tetap saja gejala nembak susah diatasi. Tenaga juga tetap masih kurang nendang.
Menurut Bambang Warsito, ada yang perlu dilakukan saat ganti knalpot racing, selain jeting. "Kalau dari pengalaman banyak pengguna Ninja, termasuk yang di arena balap, lubang snorkle musti ditutup. Itu mempermudah seting atau jeting," terang mekanik bengkel Anjany Racing, Jakarta Barat.
Dimaksud snorkle katup dari air clean system yang terhubung dari filter udara dan ke head silinder atau lubang buang. "Itu kan untuk pasokan udara bersih. Memperbanyak O2 yang disemprotkan di lubang buang, sehingga bisa menekan CO. Tujuannya untuk mengurangi emisi atau polutan," tambahnya.
Nah, saat knalpot diganti racing kan lebih free flow. Efek tendangan balik berkurang. Akibatnya bahan bakar ada yang terbuang. Dibarengi masih pasang snorkle masih terdapat udara murni yang menuju lubang buang. Udara itu akan terbakar di knalpot bersama bahan bakar yang terbuang. Maka dampaknya jelas jadi nembak. Dor...dor..!
"Makanya, melepas snorkle memang jadi cara yang lebih efektif. Tinggal atur komposisi gas bakar dari jeting," tambah Stanley Hudiono, manager Best Lap Racing Team, yang juga copot snorkle di semua motor balapnya.
Namun ketika snorkle dilepas, otomatis lubang saluran menuju ke head harus ditutup. Jangan dibiarkan menganga. Demikian juga untuk filter dan ke karburator. "Bisa menggunakan baut 12, yang biasa untuk silinder motor 2-tak seperti RX-King. Tinggal diiket deh pake kawat," terangnya lagi.
Sementara, untuk saluran karbu bisa ditutup pake skrup yang biasa dipakai untuk cover bodi. "Sedang untuk filter, bisa langsung ditutup langsung pake lem. Takut masuk air," tambah Stanley.
Memang sih, efek dari pelepasan snorkle membuat CO jadi tinggi. "Ya memang risiko untuk dapat tenaga yang lebih gede," kilah Bambang.
Beberapa pemilik Kawasaki Ninja 250R yang ganti knalpot racing mengeluhkan kesulitan saat seting. Kalau nggak nembak-nembak, tenaga nggak ngaruh banyak. Meski sudah seting jeting, tetap saja gejala nembak susah diatasi. Tenaga juga tetap masih kurang nendang.
Menurut Bambang Warsito, ada yang perlu dilakukan saat ganti knalpot racing, selain jeting. "Kalau dari pengalaman banyak pengguna Ninja, termasuk yang di arena balap, lubang snorkle musti ditutup. Itu mempermudah seting atau jeting," terang mekanik bengkel Anjany Racing, Jakarta Barat.
Dimaksud snorkle katup dari air clean system yang terhubung dari filter udara dan ke head silinder atau lubang buang. "Itu kan untuk pasokan udara bersih. Memperbanyak O2 yang disemprotkan di lubang buang, sehingga bisa menekan CO. Tujuannya untuk mengurangi emisi atau polutan," tambahnya.
Nah, saat knalpot diganti racing kan lebih free flow. Efek tendangan balik berkurang. Akibatnya bahan bakar ada yang terbuang. Dibarengi masih pasang snorkle masih terdapat udara murni yang menuju lubang buang. Udara itu akan terbakar di knalpot bersama bahan bakar yang terbuang. Maka dampaknya jelas jadi nembak. Dor...dor..!
"Makanya, melepas snorkle memang jadi cara yang lebih efektif. Tinggal atur komposisi gas bakar dari jeting," tambah Stanley Hudiono, manager Best Lap Racing Team, yang juga copot snorkle di semua motor balapnya.
Namun ketika snorkle dilepas, otomatis lubang saluran menuju ke head harus ditutup. Jangan dibiarkan menganga. Demikian juga untuk filter dan ke karburator. "Bisa menggunakan baut 12, yang biasa untuk silinder motor 2-tak seperti RX-King. Tinggal diiket deh pake kawat," terangnya lagi.
Sementara, untuk saluran karbu bisa ditutup pake skrup yang biasa dipakai untuk cover bodi. "Sedang untuk filter, bisa langsung ditutup langsung pake lem. Takut masuk air," tambah Stanley.
Memang sih, efek dari pelepasan snorkle membuat CO jadi tinggi. "Ya memang risiko untuk dapat tenaga yang lebih gede," kilah Bambang.
Rabu, 16 September 2009
Perbesar Suplai Bensin
Bensin KLX 150 dan Satria F150
Kamis, 27 Agustus 2009
Disc Belakang
Langganan:
Postingan (Atom)